Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juni 04, 2011

Wehea Exploration Village

Day 2


Well, dihari kedua disini dipagi hari sayah udah buat beberapa kebodohan yang kadang kelepasan secara ga sengaja karena kurangnya keseimbangan kelakuan normal sayah.
Sayah punya kondisi yang sangat susah ditolelir dan ditawar-tawar ketika bangun tidur. Mungkin karena sudah kebiasaan, otot-otot perut sayah langsung aktif begitu sadar tuannya bergerak setelah semalaman istirahat dari kelakuan hiperaktif sehari penuh. Dengan kata lainnya ; saya kebelet BOKER. Dengan memegang perut dan males nanya dimana WC sayah keliling rumah ini dan tidak menemukan lubang WC yang sayah cari-cari. Akhirnya sayah menengok ke jendela. ADA SUNGAI BESAR DENGAN JAMBAN  BERTENGGER MANIS DISANA. Itu sangat menguntungkan, sekalian nyebur aja habis boker. Maklum, keturunan ikan sapu-sapu, jadi ga bisa liat sungai dikit, bawaannya main nyebur aja. Nyahahahaha.


Dengan semangaat 45 sayah berlari ke sungai tepat dibelakang sekretariat dan langusung masuk jamban, tapi sayah bingung masuk dari mana…… PINTUNYA GA ADA!!!!. Cuek bebek, secara udah diujung banget, dan sayah pikir udah keluar dikit tadi dijalan mungkin, sayah nongkrong dengan bagian pinggul sayah tutup dengan pashmina, mudah2an ga nyangkut ampas disitu. Dan tiba-tiba, JREEEENG, ada bule-bule yang penasaran pengen liat pelabuhan di pagi hari juga.. kacau……selanjutnya sayah ga perlu ceritakan, karena akan menyangkut cerita sayah yang panik dan loncat ke air. Cukup memalukan.

Setelah mandi, sayah dengan gaya tidak terjadi apa-apa coba rebahan dan ngopi sambil kayang (susah kan bayanginnya?? Hehe, saya juga). Ada yang sedikit mengecewakan memang, bang Chris tiba-tiba berangkat ke Gunung Kongbeng dan mau dokumentasiin Misa terbuka di depan situs wisata Gua Maria.. AAARRRGHH… sayah keasikan kayang, sampai ga nyadar dia udah pergi, dan sayah melewatkan satu cerita menarik disni.FAK!
Tak berapa lama, sayah dihampiri Mama David (sayah ga tau nama aslinya, tapi penduduk disini biasa semua memanggilnya begitu. Ada juga Mama Andri, Mama Sinta dan banyak Mama-Mama lainnya, mungkin memanggil  nama mereka dengan mengggunakan nama anak tertua). Mama David meminta anaknya untuk ditemani ke pasar, tapi dia ga mau, sayah kemudian menawarkan diri daripada sesat ga jelas kayang sambil ngopi. Akhirnya sayahpun pergi kepasar yang jaraknya 3 kilometer dari desa, lumayan jauh, tapi pake motor kok. Karena bensin ditangki motor menandakan akan habis, sayah dan Mamah David pun nyari bensin eceran. Tau berapa harganya? 13 REBU RIPIS 1 LITER!. #masimau. Bagi anak-anak dikota yang protes harga bensin dan perrtamax yang mahal, coba deh main-main kesini..:))

Dan sayah sukses dikerjain Mamah David, dia suruh sayah bawa belanjaan kayak orang yang mau jualan, kiri-kanan-depan-belakang motor pun penuh dengan belanjaan!! Tapi Mamah David baik banget habis itu, dia buatkan makanan buat sayah spesial dan enak banget!! Sampe nambah 3 kali, nyahahahahahaha…ini mah doyan namanyah.


Kembali kesekretariat sayah menemukan keadaan kosong melompong. Ternyata semua orang sedang explorasi desa dan mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru. Hmm…. sayah pun mencoba dengan cara sayah sendiri. Awalnya sayah jalan kaki sendirian, tapi karena desa ini lumayan besar untuk di eksplorasi jalan kaki, akhirnya sayah putuskan untuk pinjam motor David lagi. Lagipula dia juga ga ada, pasti ga papa kalo sayah bawa jalan-jalan lagi. Sayah melewati beberapa jalan yang sayah pernah liat pada malam kedatangan. Kemudian sayah coba untuk masuk lebih kedalam, kemudian sayah agak nyasar, ditikungan sayah menemukan kuburan orang dayak Wehea! Walah….





Sayah coba untuk melaju lebih kedalam, namun tiba-tiba sayah menemukan sesuatu yang mengembalikan memori sayah ketika kecil JEMBATAN GANTUNG WAHAU!
Walah, ternyata desa sayah bersebelahan dengan jembatan gantung toh, karena desa Wehea berada di tikungan sungai besar dan dikelilingi hutan, makanya ni jembatan ga keliatan, sayahpun coba ambil beberapa foto yang sudutnya sangat abstrak. Sebab sayah coba ambil fotonya dijembatan dan DIATAS MOTOR YANG BERJALAN!





















sebenarnya ini bukan karena sayah ga bisa ekspresi, tapi memang ini sayah kebelet pengen loncat dari jembatan.

Sayah cukup bangga dengan hasil  yang sayah dapat pagi ini,walaupun ga bisa jalan ke Gunung Kombeng, sayah bisa menemukan keasikan melalui cara sayah sendiri. Ada beberapa yang menarik dari hasil penglihatan sayah, dimana kampung dayak disini sudah semakin maju dan terkontaminasai oleh kemajuan modernisasi. Hampir setiap rumah sudah menggunakan kayu ulin yang harganya sayah dengar 1 kubik mencapai 18 juta ripis,, walah…tapi nanti sayah ceritakan diblog mengapa keadaan ini sampai seperti ini..


Setelah kelelahan seharian explorasi dan merencanakan schedule wawancara dengan beberapa orang, akhirnya sayah tepar sebentar, dan mendadak dibangunkan karena Desa Wehea ingin mengadakan upacara penyambutan tamu atau dalam bahasa Wehea upacara Nelkeaq. Ahahahaha.. saya sangat exited dengernya, seumur-umur belum pernah disambut di kampung sendiri, sekarang disambut sama suku dayak lagi,, asiiiikkk…


Upacaranya berupa memotong bambu dibagian tengah dan dibentuk kemudian meletakan telur ditengahnya, kemudian ada sesembahan kepada roh penjaga desa dan hutan Wehea dengan memotong kepala burung dan mengusapkan darahnya didahi semua tamu. Anehnya sayah sempat kelupaan dikasih darah sama si dukun, sayah terseok-seok mendekati kepala adat minta diberi perlindungan juga. Kan sayah ga mau nanti titit sayah pindah kekepala, dan setelah kepala adat melihat muka memelas sayah dia akhirnya mau memberikan darah di jidat indah sayah. Fffiuuuh… kami juga diberi gelang perlindungan sebagai simbol persahabatan warga dan perlindungan para tamu dari roh-roh jahat.


Hari ke dua pun ditutup setelah kami disambut ketua adat dirumahnya.


Sampai disini dulu ceritanya, nanti kita cerita lagi buat hari ke-3 yah, sayah mau makan masakannya Mamah David dulu!..
Read more

Senin, Mei 30, 2011

Wehea Expedition !!


Day 1

Heyloow villains!!!.. postingan kali ini memang agak sedikit beda, untuk beberapa postingan berikutnya sayah akan cerita tetang petualangan baru sayah ke Desa Wehea atau dalam bahasa dayaknya disebut Nehas Liah Bing kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur!


Sebelum masuk kedalam kejadian di hari pertama mungkin sayah mau cerita sedikit tentang bagaimana kok bisa sayah(lagi-lagi) kembali nyasar ke salah satu daerah terpencil di wilayah Kalimantan Timur ini. Awalnya sayah bareng sodara-sodara sayah di Teater Bastra sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pementasan di Temu Teater se- Kalimantan yang diadakan Taman Budaya Samarinda. Yah, jelek-jelek teater kami mewakili Kalimantan Timur dalam pementasan yang diwakili oleh seantereo ranah Borneo ini. Nanti deh saya postingin cerita lengkap pentasnya, dari naskah sampai lagu (yang memecahkan rekor sebagai pementasan yang paling banyak Soundtrack nya dalam sejarah Teater Bastra*hehe, nyombong dikit napah). OKEEEH, KEMBALI KECERITA MINK! Lagi asik-asiknya mempersiapkan latihan sehari sebelum pentas, tiba-tiba seseorang bernama Keris (baca: Chris) mengaku sebagai temennya Ocha mengajak sayah untuk jadi interpreter untuk orang Aussie. Awalnya sih pengen nolak, jadi dibiarkan aja smsnya, karena niatnya memang pengen fokus ke pentas, lagipula pulsa sayah juga habis jadi ga mungkin bisa balas *bilang aja emang ga bisa balas mink! Pake ngeles fokus pentas!* #garukgaruktembok.
Nah, sayah kira orang yang Chris maksud si Ocha adalah yang ini. Ternyata Ocha yang ini.. :)))))))

Yah, sayah janjian lah ketemu sama beliau di kampus, kebetulan juga habis ngajar, jadi ada waktu luang. Setelah ngobrol ngalor ngidul, ternyata sayah diajakin masuk ke perkampungan dayak di daerah Wahau. Nama kampungnya Desa Wehea. Dan kemungkinan nanti bakal masuk hutan juga nyari warga dayak yang ada disana, saya diminta menjadi penterjemah untuk keperluan risetnya. APA KADA SHOCK! Ini namanya Pucuk Dicinta Ulampun saya Telan, hahahha. Tanpa babibu dan nego sedikit dengan meminta keberangkatan yang awalnya hari jum’at diganti hari sabtu karena sayah harus pentas hari Jum’at malam sayah pun berangkat pagi hari setelah pulang pentas.


Dengan kondisi belum lengkap packing, karena malam sebelumnya sayah tewas kecapean habis pentas, paginya sayah dijemput jam setengah Sembilan dan sayah baru bangun jam 8. MATI AJA MINK!. Dengan gaya ngulet *senam gaya ulet* habis bangun tidur, sayah mandi buru-buru dan beli sarapan, takut ga keburu dijalan. Walah, belum sempat sarapan mobil jemputannya udah nunggu didepan kos. Alamat, sarapannya dijalan, haha. Tapi untung sempat mampir ke salah satu kafe di daerah M. Yamin dan sayah bisa makan nasi kuning dengan tenang damai dan sentosa ditemani segelas kopi item mutlak. Disini udah nunggu sekitar 15 bule dari NGO dari Canada namanya Ethical Expidition. Mereka membagi dua tim dalam expedisi ini menjadi Ethno ecology group yang bakalan tinggal di desa dan hidup bareng warga dayak Wehea selama 1 ½ bulan dirumah keluarga angkat (jadi ingat program sayah kemaren,hehe) dan Biodiversity group yang bakal masuk hutan buat melakukan riset disana. Well, itu bukan kerjaan sayah sebenarnya, si Nick ini kerja di Radio, dan dia juga mahasiswa yang sedang melakukan riset tentang Indigenous People dan sekarang pengen meneliti masyarakat dayak Wehea setelah kunjungannya ke Palangkaraya minggu kemaren. Yah, lumayan kan, saya dapat jalan-jalan seminggu, nginap diperkampungan dayak, terus kemping lagi. PAS MANTAB!!!


Sekitar setengah 11 kami pun meluncur dan sempat mampir didepan gerbang Taman Nasional Kutai buat makan bakso didepannya, karena si Nick, Bule yang jadi boss sayah, kelaperan belum sarapan, sayah ikutan dipesenin bakso, ga mungkin dong ditolak, walaupun udah dijejelin nasi kuning porsi kuli sebelumnya. Touchdown Sengata sekitaran jam  setengah 4.Langsung makan di Rumah Makan Setia Kawan, saya dengan kalap untuk makan siang part II setelah bakso dengan memesan ikan patin bakar. Nyahahahahaha. *ga mau rugiiii*.


Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati jalur Ratu Palung sekitaran maghrib. Lumayan lah jalanannya, kayak naik odong-odong super lebay!! Jalanannya ancur lebur. Bahkan ya, ada tu satu lobang dalam banget ditengah jalan yang harus dilewati mobil. Pas udah ditengah lubang sayah baru sadar, TERNYATA TANAH DISAMPING SAYA KELIHATAN MELEWATI JENDELA MOBIL! #wasuhtenan. Ada yang lucu pas dijalan ketika jalanan dikiri kanan udah hutan doang *emang dari tadi hutan kaleee* dan waktu menunjukkan sekitar pukul 8 malam. Saat itu sumpah jalanannya serem banget, ga ada tanda kehidupan dang a kelihatan lampu rumah penduduk ataupun pondok penjaga kebun. Tiba-tiba ditikungan muncul sesosok menggunakan kancut (baca: SEMPAK) berwarna kuning! Kami sempat ngerem gila-gilaan. Setelah terkena sinar lampu, sosok itu ternyata tidak hanya menggunakan kancut kuning. Dia juga membawa gayung. Dan dibahunya ada handuk….. ternyata warga kampung yang baru pulang mandi habis kerja. -_-‘.
Si sopir sempat juga ambil shortcut buat ngehindari jalanan kayak habis kena bom meteor itu. Ternyata dia ambil jalan perusahaan SINARMAS. Perusahaan kelapa sawit terbesar di Kutai Timur. Yang menarik adalah, buat pertama kalinya sayah liat itu pohon sawit besarnya kayak rumah bertingkat. #dasarudik.


Sekitar jam setengah 11 malam kami sampai di desa Wehea. Dan reaksi pertama kali saya sampai didesa ini lalu melihat sekretariatnya; ANJRIT, KEREN BANGET!!!!. Desa dayak ini sangat bersih, rapi dan nyaman dilihat, spereti desa pariwisata yang sangat diperhatikan pemerintahnya, (tidak seperti PAMPANG) dan secretariat ini juga tepat disamping sungai besar Wehea dimana terlihat jembatan gantung yang menjadi kebanggaan warga sini. Paginya saya langsung main nyebur aja,, hahahaha..


At least, dari rangkuman perjalanan hari pertama sayah, sayah memutuskan dalam detik ini sangat muak dengan SM*SH, Mata Band dan ST12. Karena driver yang bawa mobil yang sayah tumpangi tak henti-henti memutar ulang lagu-lagu mereka. *fak men, sayah pake acara mual-mual pas di Sengata karena pusing sendiri dengar lagu-lagu mereka*. Alhasil KUBE kesayangan sayalah yang menjadi penyelamat. Daaaaan sayah memilih untuk best soundtrack dalam perjalanan ini adalah PLASTIK (band pertamanya IPANG) – RAHASIA dan NAFF -  Tetap Berjalan. Dua-duanya ga berhenti bikin bosen sayah buat diputar-putar ulang.

ah,sayah lupa, diperjalanan sayah sempat ambil foto di tugu garis Katulistiwa atau Equator Line.























Okeh, sayah udah males ngetik, karena jatah listrik dikampung ini sudah habis sampai jam 1 siang, dan sayah sekarang kepanasan!


See ya in the next post villains!
Read more

Jumat, Maret 25, 2011

Toko Anti Copet!


*Diambil Di Mirota Batik - Jogja*
didalam foto ini : Adit 




 

Read more

Anak Mushola Yang Mengaku Lulusan "SLB" dan Kenthir


*diambil di Rumah Makan Raminten - Jogja*





Read more

Kamis, Maret 24, 2011

Shock in the Friday Morning

oke! saya tau ini masih terlalu pagi untuk menulis blog. pukul 09:43 WITA!

yang jelas saya ga tau mesti apa karena pagi ini saya dapet kabar yang akan menggemparkan media se-Indonesia Raya. *entah kenapa saya jadi pengen kayang*

tepat pukul 8 tadi, saya mendapati hp saya berbunyi nyaring. pertanyaannya, siapa yang rela nelpon sayah sepagi ini dan pasti ga akan saya angkat karena masih ngantuk habis begadang semalem?
dengan males-malesan sayah menjawab tu telpon...
"Hallo, sopo ni!"
"Assalamu'alaikum,, ni Fahri ya?? saya pak Baharuddin, masih ingat?"
*diam sebentar....*garuk-garuk sambil mikir*


DOEEEEENG,, ITU KAN GURU NGAJI KU WAKTU ZAMAN TEKA-SD DULU!!!!

akhirnya setelah ngumpulin nyawa sayah yang masihh berserakan disekitar kamar, usut punya usut, sayah disuruh berpartisipasi dalam lomba MTQ alias lomba Tilawatil Qur'an, nyawa sayah kembali berhamburan.....


MTQ ini jenisnya agak beda, katanya nanti ada pertanyaan-pertanyaan yang terkait dalam bentuk bahasa Inggris. DAN DISINILAH FUNGSI SAYAH BERPERAN. bukan karena ke merduan suara saya yang bisa menimbulkan kerusuhan massal, tapi karena bahasa Inggrisnya lah saya dipilih..

saya sempat bertanya-tanya, mimpi apa yah si Bapak semalem sampe-sampe memilih sayah sebagai peserta MTQ. Pertanyaannya, emang kriteriannya ada yah buat makhluk kayak sayah, jangan-jangan belum apa-apa malah didiskualifikasi karena dianggap Harram, hahahahhahahahahahaha.....

God always has Its own way to give a light to Its people..

barusan semalem sayah ngeluh tentang mimpi-mimpi sayah, tentang bosannya sayah di kota Samarinda dan ingin tantangan,, ternyata Tuhan mendengarnya, dan memberikannya plus tantangan..
jadi inget Tymun waktu bilang,"Gantung mimpimu setinggi-tingginya sampai Tuhan bisa menangkapnya"
kalo dikasus sayah, Mimpi ini terlalu tinggi, sampai nyampe kedepan pintu rumahnya Tuhan..:))))




But why MTQ? How come do You think it gonna work out?? :)) let see..

see ya alligators..





Read more

Rabu, Februari 02, 2011

Mencari Sisi-sisi Geometris Melalui Guratan Tulisan Kata. *tttsssaaaaaah*

well, a month full of pressure and deadline! and it won't end soon!

mungkin itulah gambaran hari-hari belakangan di bulan Januari kemarin, dan mungkin akan terjadi lagi di bulan-bulan berikutnya.
ok mulai dari mana ya enaknya..

kita mulai dari PPL dulu.

bulan Januari sebenarnya sudah menjadi detik-detik akhir untuk kegiatan yang mewarnai blog sayah belakangan ini.
minggu-minggu ujian diwarnai beberapa kejadian yang menyentil sayah untuk menuliskannya di sini.

terberkatilah Bu Parti, guru pamong sayah yang baik hati. banyak sekali kemudahan yang beliau berikan kepada sayah dan akhirnya mendapatkan nilai yang lumayan menghibur lah ..hehehe. paling ga saya ga mesti jongkok ngeliat nilanya *sangking rendahnya maksudnya*
dan sayah surprise karena pak Masrur, dosen pembimbing sayah yang sempat sayah caci maki puji-puji di twitter memberikan nilai yang sangat memuaskan! *sangking puasnya sayah sampe lupa nangis*

mungkin karena di karuniai murid-murid bandel tingkat akut, sekolah ini selalu menarik untuk mencari sisi-sisi geometris melalui guratan tulisan kata sayah. *tsssaaaaah*

cerita minggu ujian anak-anak PPL di MTs Al-Kautsar akan dimulai dengan gambar ini.





















bukan... ini bukan gambar anak-anak yang sedang latihan mengibarkan bendera. kalau kalian memperhatikan benda yang ada di puncak tiang bendera itu adalah.... sepatu.

Yak! tepat sekali, dua anak itu sedang dikerjai temannya ketika salah satu dari anak PPL sedang ujian. dan yang lewat didekatnya menggunakan sepeda motor itu adalah Waka Kesiswaan yang lewat dengan tersenyum.. wajahnya seakan mengatakan. "ah,, anak-anakku lucu sekali"

Beberapa hari kemudian ada lagi yang buat ulah. anak-anak yang sedang "diburu" untuk masuk ke kelas terlalu terburu-buru mengambil ancang-ancang. salah satu anak kelas satu yang berlari tak sadar kalau salah satu jendela kantor masih terbuka, dan.."TUNGGGG" kepalanya kena sudut jendela kayu yang terbuka. bocorlah itu kepala.. dan si anak dengan pedenya ketawa-ketawa kemudian mengompres kepalanya dengan seragam putih sekolahnya. setelah beberapa saat dia sadar kalau tindakannya salah, kemudian mengganti mengompresnya dengan baju kaos kutang yang dari tadi dipakainya. *kenapa ga dari tadi, ngullll!!, jadi tu seragam ga mesti bedarah-darah!* *emosi*

setelah dibawa ke puskesmas terdekat untuk penanganan, dia kembali belajar seperti tidak terjadi apa-apa. besok harinya, kepala si anak dibotakin bapaknya. :D

di akhir minggu ujian, sayah ceritanya ingin minta tanda tangan kepala sekolah untuk melengkapi laporan PPL. ketika melewati meja Bu Parti tak sengaja mata saya tertarik pada 2 kaleng lem yang berwarna merah.yang isinya sedikit mencuat dan berwarna kuning ngejreng. merknya "Rajawali". saya diam di tempat. bagi beberapa kalangan merk ini memiliki beberapa arti, tentu saja.

Sayah: "bu, itu.. lem punya siapa ya kalau boleh tau?? apa jangan-jangan.."

bu Parti: "iya itu, si Sulaiman, anak kelas IX kedapatan di WC kemaren"
Sayah: "oh.."
*bayangkan adegan ini ketika posisi sayah berhenti mendadak dengan badan mengarah ke arah kantor kepsek dan kepala menoleh kesamping, posisi sayah seperti orang berjalan, dan ibu parti menjawabnya sambil baca koran*

Faham??
belum?
oke,
Lem rajawali, pada dasarnya seperti lem-lem yang lainnya, berfungsi untuk merekatkan sesuatu *yaiyalah*.

lem jenis ini umumnya di kenal sebagai lem yang berkhasiat untuk merekatkan media jenis kayu-kayuan. Namun bagi kalangan junkies, dan beberapa kalangan juga menyebut benda ini terkenal di kalangan anak-anak yang nge-Punk tapi ga tau tujuan. lem ini terkenal sebagai sarana fly paling murah meriah. tinggal hirup uapnya maka di jamin fly dalam sekejap! aktivitasya sendiri di sebut ngelem.

mau liat gimana anak yang nge-fly sambil ngelem?





















foto ini saya ambil pake kamera ponsel sayah ketika di pantai Losari Makassar saat saya menghadiri studi banding untuk seminar lingkungan hidup. ni anak ceritanya minta-minta duit gitu sambil ngelem,. dia udah ga tau apa yang dia omongin, badan kurus kurang makan, karena efeknya dari ngelem adalah tidak berselera makan karena aroma kuat yang dihasilkan uap lem membuat kita hilang nafsu makan jika di hirup terlalu sering. matanya sudah tidak ada celah berwarna putih, hanya merah dan hitam dan bicara tidak jelas disertai pandangan yang tidak fokus.
uang yang didapat dari meminta-minta digunakan untuk membeli lem lagi.

















3 anak terdepan, baju kemeja dengan lengan bajunya warna kuning, anak kecil berbaju hitam celana pendek dan bocah berbaju ungu yang tertunduk adalah anak-anak yang saya jumpai di Pantai Losari sedang dalam keadaan antara sadar dan tak sadar apa yang mereka lakukan disana setelah ngelem gila-gilaan.


















nah ini si anak yang saya ceritakan tadi bernama Sulaiman yang sedang di sidang guru BP bersama kakaknya (yang cuek-cuek aja adeknya ketahuan ngelem).
si anak tidak di keluarkan, hanya disuruh menulis surat pernyataan yang pasti ia lupakan isisnya begitu kakinya keluar dari pintu kantor itu.



lagi-lagi saya *dengan mengambil nafas dalam-dalam* mengatakan..
Betapa indahnya PPL ku

ok, lanjut...

tak berapa lama setelah minggu ujian berakhir, Teater Bastra melaksanakan Kemah Sastra (KEMSAS) untuk pengukuhan anggota barunya.
setelah mengatur jadwal sedemikian rupa akhirnya sayah bisa ikut kemah itu, bahkan masuk sehari sebelumnya untuk jadi tim perintis. Karena merasa paling tua sendirian *ups* akhirnya sayah mengajak si Scooby buat nemenin sayah masuk hutan. seru juga disana, paling ga stress bisa terobati dengan teriak-teriak, nginjek-nginjek anak orang, mancing ikan, memberikan "password" buat nama suci anak baru yang aneh-aneh dan yang terpenting, seperti kata Okta dan Eros..
Berbagi waktu dengan alam, untuk mencari tau siapa dirimu yang sebenarnya. Hakikat manusia.
dan tentu saja, bersama kawan sehati.
datanglah si Babi.. maka makin ramailah kemping kami disana..:D

















kiri-kanan : Scooby Doo, Baby a.k.a Babi, Sayah (lutung kasarung)



















Nice shoot from Scooby in music workshop..:D






















EEEAAAAAAAA



















UPS.... GA SENGAJA KEPENCET UPLOAD KER!!.:)


well, secara keseluruhan disini saya ingin mengucapkan selamat bergabung kepada anggota baru Teater Bastra.

Selamat bergabung di lingkaran setan..:D

mari saya perkenalkan mereka dengan nama suci masing-masing.

















kiri ke kanan:
Bonaga (a.k.a Bau Naga), Boteng (Boker Serenteng), Dire (Dilanda Diare), Petra (Penyorak Teater Bastra), Cenil, Ritan (Putri Tarsulan), Rabut (Ratu Buntelan Kentut), Muso (Musolini Sutisna), Kurab (Kurma Arab), Kipo (iki opoo), Lado (Lambe Ndombleh), Cemab (Cewe Mabuk),Gatar (Gadis Bergetar)
Bawah:
Agas dan Cepi (Cengeng Pingsan)

what's next???
okeh, mungkin sayah akan sedikit review seputar PT Teater Bastra.
dengan ini sayah menyatakan, ALHAMDULILLAH bahwasanya kalau lagu-lagu yang selama 2 bulan ini terus menerus di cari sampe elek akhirnya direstui oleh sutradara..:D. 3 lagu di bungkus untuk mengemas persembahan Pentas Tahunan. saya beri judul Lawan Catur Theme song #1, #2 dan #3. habisnya ga punya nama kreatif yang lebih pas, lirik lagu ketiganya kurang lebih bernuansa sama namun dengan aransemen musik yang beraneka rasa...hehehe

dan berita terakhir, terus terang, setelah beberapa kejadian diatas ditambah jadwal ngajar private (termasuk PPL juga) membuat sayah sedikit terganggu kondisi fisik. Sukur ada si Kucing yang merawat sayah siang malem.. Makasih ya Ndud! *sungkem*

apa lagi yah.. hmmm. ohya, uang gaji hasil ngajar kemaren sayah langsung belikan printer baru, kipas laptop (bahasa kerennya coolpad) serta Harmonika baru dan dudukannya..
masih bersedih banget karena hilangnya harmonika yang di belikan si Kucing dari Kediri..:'(,, ingat ini jadi pengen makan orang.. *jauhkan ade bayi tetangga*
maaf ya Ndud *sungkem lagi*

ohya, pas pulang ngajar terakhir sayah nemu celana lapangan panjang ciamik berbahan parasut yang saya idam-idamkan di toko cakar atau secondhand shop ! lumayan kan, menghemat pengeluaran, kece lagi bentuknya,, amunisi kemping ntar..hahay!!

Seperti yang saya katakan di awal sekali, kegiatan-kegiatan ini ga akan berakhir begitu saja dalam waktu dekat.
1. Sabtu dan Minggu ini akan ada LT HMJ. *dan saya tampaknya lagi-lagi  menjadi "tetua" yang bisa hadir. mengingat si Babi lagi menghadiri Pendidikan anggota baru IMAPA dan scooby lagi dapet proyek sampingan. mengharapkan yang lain? wah, salam jari tengah aja deh..:D*

2. dimulai minggu depan, selama 4 sabtu-minggu berturut-turut kami akan memulai Tur 4 Kota PT Teater Bastra. destinasi meliputi Kota Samarinda, (Kota) Anggana *hehe, dilarang protes*,Bontang dan Balikpapan.

3. MUSMA , MUTER.. dan Mumet....-_-'


eh, ga sadar udah dengar Adzan subuh..mau ngemil KUSUKA dulu bentar... terus tidur.

Selamat Imlek bagi yang merayakan.
Gong xi fa chai

Selamat berjuang dan semoga sukses untuk skripsinya si Kucing!
Selamat menempuh hidup baru bagi salah satu anggota Palkon: Idzoel

Adios Amigos!!
see you in next post!
Read more

Kamis, April 22, 2010

Napak Tilas Kampung Halaman Mamak

Rencana ini sudah dirancang jauh sebelum sayah menjejakkan kaki dirumah. Sejak sayah masih di Cikandang tepatnya. Dengan alasan tertentu, Abah dan Mamak merencanakan ingin membuat selametan sayah sepulang dari program dirumah keluarga sayah yang ada di Kampung Jambuk, Kecamatan Bongan, suatu tempat yang biasa orang kami sebut Tanah Hulu. Sejak kecil sayah hanya tau nama daerah tanah hulu ini cuma dari cerita saja. Banyak cerita menarik yang berasal dari daerah antah berantah ini, salah satunya adalah apabila terlihat disungai Mahakam udang-udang sungai naik sampai kepinggir rumah dan sangat mudah ditangkap menggunakan tangan, maka sudah bisa dipastikan penyebabnya adalah air disungai Mahakam di Tanah Hulu penyebabnya. Air “kiriman” ini menyebabkan udang didaerah hilir “mabuk” (mungkin mengandung alkohol,, hehehhe, becanda). Cerita-cerita seram alias horror atau biasa kita sebut Cerita Hantu Orang sangat terkenal berasal dari tanah hulu juga, karena masyarakat disini masih jarang dan masih dikelilingi hutan yang sangat lebat diseluruh desanya. Apabila malam datang, orang-orang tidak mau bepergian sendirian, bahkan orang tuanya pun seperti itu,, serem katanya, suka digodain demit. kan ga keren sekali kalo mereka malem-malem tereak-tereak sambil lari terus ketika ditanya mereka menjawab “digodain demit cewe, diajak dangdutan” ih, najis banget lho... heheheheh. Cerita hantu yang saya dengar dari orang tua dan paman-paman saya juga kebanyakan yang pernah mereka alami sendiri selama mereka masih dikampung ini sebelum mereka pindah ke Sungai Mariam, daerah kami tinggal sekarang.


Perjalanan kami kali ini sebenarnya hanya sekedar Nazar dari orang tua sayah untuk membacakan Yaasin ke makam orang tua nenek dari Mamak sayah. Salah satu bagian terberat adalah pada saat keberangkatan dari rumah, dimulai pada pukul 4 pagi! Gila ajah, lah sayah malam sebelumnya nonton film sampai semaput gitu kok,, jam 2 subuh baru kelar nonton film Chipmunks 2 dan mengulang kembali (untuk kesekian kalinya) film yang meraih nominasi Film terbaik Oscar, Lord Of The Ring (Return To The King). Dengan kondisi setengah sadar kami pun berangkat, sayah, Mamak, Abah, Dilla, Nenek Heru, Nenek Fika (nama-nama nenek ini bukan nama sebenarnya, ini diambil dari nama anak-anak mereka agar lebih mudah membedakannya), Mbo Noy, 4 ponakan sayah, Fika, Linda, Edho dan Aya. Dengan menumpangi mobil pick up punya abah yang langsung dapet AC (Angin Cepoi-Cepoi) di bak belakang, alhasil sepanjang jalan sayah malah sukses tetidur dan terbangun ketika mendekati Kota Bangun, tempat persinggahan pertama. Disini kami mampir untuk berkunjung ke makam Dato’ laki dan mempir dirumah keluarga tepat disamping pelabuhan persinggahan di Kota Bangun. Wuiiih,, pemandangannya asik sekali,, nonton warga sekitar yang asik duduk di folder berjejer untuk mancing di sungai Mahakam. Kabar yang beredar, ikan Patin, salah satu ikan yang terenak yang ada di Sungai Mahakam, banyak terdapat disungai ini dan sangat mudah dipancing dengan menggunakan pentol!!! Yak, benar sodara-sodara, pentol yang itu, yang banyak dikonsumsi oleh anak-anak sekolahan itu ternyata sangat laku juga di Sungai Mahakam, hahahahahaha,, (pantas banyak orang jualan pentol disini!)


Perjalanan menuju persinggahan selanjutnya agak sulit untuk tidur seperti persinggahan yang pertama, secara mobil yang ditumpangi adalah mobil open cab, yah, maklum sajalah kalo sengatan sinar matahari menjadi salah satu resiko perjalanannya, huhhuhuhuhuhuu. Setelah beberapa jam kami melakukan perjalanan (dan badan sayah sukses gosong!), Abah dengan mendadak memberhentikan mobil tepat disamping pohon besar disamping jalan, ga taunya sudah jam makan siang,, hahaha, maka, piknik mendadak pun terjadilah siang itu, dibawah pohon rindang dan lahan yang lumayan luas untuk duduk-duduk dibawahnya, maka kami pun siap menyantap makan siang. Namun ada yang kurang, ga ada selimut, terpal atau sejenisnya untuk alas makan kami ditanah, tapi saya gag habis akal, kebetulan saya membawa sleeping bag sayah dan menggunakannya untuk alas saya tidur siang,, hahahahahahha,, tapi melihat saya enak sendiri, Abah, Mamak dan para ponakan pun ikut mengganggu, saya ditendang keluar dan mereka mengaduk-aduk tempat tidur siang sayah, Abah malah makan diatasnya dan sedikit menumpahkan air Tape di atasnya,,, waaaaaaaaaaa,, tempat tidurkuuuu.. hiks..hiks..


Sambil terus mereatapi sleeping bag saya yang akan menjadi sarang semut dan ntar malam pasti gatal-gatal kalo sayah pake tidur, makan siangpun selesai dan kami siap melanjutkan perjalanan lagi,, huffhh masih ada 2 kecamatan lagi yang harus dilewati..


Bongan, adalah salah satu kecamatan yang lumayan besar didaerah Kutai Barat, namun dengan kondisi masyarakat yang sangat jarang, dan masih dikelilingi hutan kayu adalah tempat yang lumayan membosankan, serius!. Namun ada beberapa hal yang menarik yang ada disekitarnya. Pertama, masih banyak terdapat monyet liar berlompatan dihutan samping jalan, bahkan sampai nyeberang jalan,, hahahaha,, kayak dikebun binatang aja, dan masih buanyak beberapa binatang liarnya disana (kabarnya masih banyak pelanduk diseketar sini, sejenis binatang seperti moose atau rusa yang biasanya kepalanya dijadikan dekorasi rumah dan dagingnya lezat sekali). Kedua, sepanjang kecamatan ini tidak ada listrik! Yang saya maksud benar-benar tidak ada listrik adalah, tidak ada tiang PLN atau penyalur tenaga listrik lainnya untuk mendukung asupan listrik untuk warga di sepanjang jalur ini. Yang saya heran adalah, dirumah keluarga sayah ada tipi!,, waduh. Ternyata untuk mendapatkan listrik, masing-masing rumah harus mengusahakan sendiri bagaimana mendapatkannya, salah satunya adalah menggunakan generator set. Ketiga, terdapat sungai yang cantik sekali dibelakang rumah ini, dengan dikelilingi jurang disekitarnya, ditengah-tengah terdapat sungai yang biasa dipakai untuk MCK oleh warga sekitar, ndeso sekali,, hehehe, dan warna iarnya juga COKELAT SEKALI! Sungai ini adalah aliran sungai Bongan yang terus menuju Sungai Jempang yang terkenal dan dilanjutkan ke Sungai Mahakam.


Perjalanan kemudian dilanjutkan ke tempat makam keluarhga untuk mengirimkan do’a kepada Dato’ bini. Ternyata eh, ternyata, kuburan-kuburan tersebut terletak di belakang rumah pertama Mamah saya waktu masih kecil, hehehhe, tapi sayang kondisinya seperti kena angin topan didalam rumah, kasian sekali.. Ini beberapa foto dilingkungan rumah orang tua saya (plus kuburan keluarga)



beberapa dokumentasi yang sempat saya jepret menggunakan kamera hape soner saya (yang nyatanya kualitasnya jauh lebih jelek dari kamea DSLR!!!) di CEKEDOT aja deh..



ni foto tempat mainnya mamak waktu kecil (mamah tampak belakang)









nah yang ini tempat mainnya mamak juga (mamah tamak depan *tetep aja gag keliatan,, hehehe*)













rumahnya mamak dilahirkan dan tumbuh besar (liat gag???yang sebelah kiri ketutup pohon ituh,,  yang kayak kandang ayam)









mamak masuk kerumahnya nih








 nah inilah keadaan rumah yang lebih tepatnya bangunan yang yang kena angin puyuh dari arah dalam,, hehehhehe









yah itulah kisah yang udah lama banget pengen saya postingin,, ni tulisan keknya udah lumutan di lektop sayah,, yaudah,, sayah mau nulis lagih,, *kali ini berusaha untuk tidak terlalu kadaluarsa*
Read more

Senin, Maret 15, 2010

Selanjutnya Adalah Musibah!





Seperti biasa, entah kutukan atau apa, kemanapun kaki melangkah saya selalu saja disertai dengan musibah yang anehnya ada saja yang menarik untuk di ingat dan diceritakan. Hari pertama di jogja ditandai dengan kehilangan kunci motor pada saat motornya masih menyala dan berjalan melintasi kota Jogja! Fantastis!
Kejadiannya seperti ini, hari pertama kami menjejakkan kaki di Jogja pada pukul 4.30 pagi dengan kepala masih puyeng akibat terngiang-ngiang teriakan penjual getuk asli Purwekerto (so what kalo dari Purwekerto Mas!). dari stasiun kami langsung meluncur kekontrakkannya abang mas Danar untuk istirahat sejenak, karena fikiran masih melayang-layang, kami pun pergi mencari warung kopi terdekat untuk menyegarkan otak yang sedikit keruh ini. Segeeeer!!! Sampai pukul 6 pagi pada saat orang-orang perlahan bangun untuk melanjutkan rutinitasya, kami malah pulang untuk melakukan ritual yang tertunda dikereta api tadi, yak tepat sekali sodara-sodara,  tidur!

Terbangun pukul 12 siang dengan keadaan setengah teler akibat kelelahan kami pun ditraktir makan siang kemudian lanjut jalan-jalan menikmati kota Jogja menggunakan 2 sepeda motor milik keluarga mas Danar. Mas Danar yang bertugas sebagai tuan rumah mempunyai tanggung jawab untuk mengantarkan kami kedaerah-daerah yang pantas untuk dikunjungi. Tujuan pertama adalah Malioboro, setelah puas dengan belanja seadanya untuk baju ganti agar terlihat membaur dengan warga sekitar, kamipun pergi melanjutkan perjalanan ke Alun-Alun nan gersang di sekitaran Keraton, karena Keratonnya sedang tutup karena ada kegiatan di sekitarnya maka kami puas untuk melotot di daerah tandus tersebut menonton orang-orang yang lalu-lalang. Kebetulan pasar baju bekas yang hari sebelumnya tampak digelar disana telah siap untuk bongkar muatan untuk pindah ketempat lain.

Perjalanan selanjutnya adalah Taman sari, alias tamannya raja jaman dahulu kala. Disinilah musibah itu datang. Motor yang saya kendarai bareng Adit dari Alun-Alun tampak berjalan mulus sampai ke parkiran Taman sari, permasalahannya adalah, ketika sampai disana saya bingung untuk mematikan mesin motor saya, padahal anak TEKA pun tahu cara mematikan mesin motor, namun saya tetap tidak sukses mematikan motor tersebut karena ternyata kunci motornya HILANG ALIAS RAIB  dari tempat kontaknya! Sangat fantastis menurut saya, karena motor tersebut bisa sukses mencapai sana tanpa menggunakan kunci. Jika pintar, pada saat motor masih menyala saya kembali lagi menyusuri jalan yang saya lalui, jika tidak berhasil saya ketempat tukang kunci untuk membuatkan kunci barunya. Itu jika saya adalah orang yang pintar, Ketololan saya adalah mematikan kunci tersebut dengan kunci motor yang dipakai mas Danar dan kemudian TIDAK BISA KEMBALI LAGI! Setelah kembali 2 kali bolak balik dicari oleh saya dan mas Danar secara bergantian menggunakan motor yang satunya lagi dan hasilnya nihil, alhasil solusinya adalah mendorong motor tersebut sejauh 7 blok untuk mencari tukang kunci! Baguuuuus,, semakin besarlah telapak kaki sayah.. what a shame.

Hari kedua Kucing gendutku datang menjemput. Katanya kangen luar binasa tidak menyurutkan niatnya untuk menjemput pangerannya yang ganteng dan cacat mental ini, hehehe. Setelah melepas rindu lama tak bertemu, Perjalanan dilanjutkan dengan niat hunting foto-foto di kisaran Borobudur. Perlengkapan lengkap, motor stand by, kamera DSLR udah siap 3 biji (punya mas Danar, Adit dan Kucing, saya Cuma numpang keren doang, hehehehe, maklum orang kere), amunisi penuh, badan wangi dan matahari bersinar terik (tidak lupa basahin jambul). Mantap! Perjalanan memakai sepeda motor tidak sampai setengah jam dan hujan pun mengucur dengan derasnya! Ketek! Gagal total.

Malemnya nge-jamu ke House of Raminten dekat kantor Kompas. Setelah banyak tertawa melihat menu yang disajikan dan pakaian  pelayan cewenya kayak jualan badan dan cowonya kayak gigolo kampungan, saya memesan teh Jahe karena badan saya meriang kedinginan ( ada judul jamu “susu perawan nancep” jamu segala macem dari obat kuat sampai obat panu, dan edisi spesial untuk kaum Adam yaitu pijat tradisional dengan ramuan khusus yang dipijet oleh mbak-mbak sexi, noughty, bitchy gitu deeeh). At least, nongkrong di tempat ini buat hari saya gag terlalu buruk lah, tempatnya Cozy banget, tapi sayang tempatnya diimbangi dengan pelayanannya yang amburadul. Kasian mas Danar, udah mesen nasi kucing porsi double gag pake telor, 2 jam gag dateng-dateng juga, padahal makanan kami udah ludes semua (saya mesen pisang pake mises seres SATU BIJI harga 5 ribu, Damn!).

Hari ketiga niat untuk berburu foto di Borobudur pun tercapai, berbekal pengalaman pahit kehujanan hari sebelumnya, Kucing ber-inisiatip untuk menyewa mobil yang bisa bawa kita semua keliling Jogja. Rute Borobudur-Prambanan-Kota Gedhe-Parang Tritis dan kembali ke Malioboro dijadikan target satu hari full kita jabanin, tidak ada kejadian bodoh hari ini kecuali pada bagian akhir Adit hampir di tarik penunggu pantai Paris (parang Tritis) untuk dijadikan qurban karena nekat mau naik karang ditengah arus deras untuk mengambil foto pose bertapa ala Ki Joko Bendot diatasnya. Ga banget!

Hari keempat saya dan kucing dikerjain tukang becak ketika ingin mengambil foto di Keraton. Setelah penawaran alot kami bisa mendapatklan harga 3ribu perak untuk keliling tempat bakpia, dagadu dan keraton. Masalahnya disana kami gag mau belanja bakpia dan gag mau belanja di Dagadu, secara di malioboro jauh lebih murah. Jadi kami minta langsung  diantar ke Keraton dan minta ditungguin pulangnya, eh, malah ditinggal sama tukang becak sialan itu, untung belum dibayar. Ternyata usut punya usut, para tukang becak memaksa dengan rute pergi ke tempat bakpia dan Dagadu itu akan mendapatkan persenan dari penjual jika pelanggannya membeli produk-produk disana. Pantes saya ditinggal, lah saya gag ada beli apa-apa langsung ke Keraton, udah gitu kami didalam ada kali sekitar 2 jam untuk nyari spot foto yang aduhay. Tukang becak mana yang mau nunggu segitu lama dan menderitanya hanya untuk 3ribu perak?

Malemnya adalah malam terakhir di Jogja nyari makan gudeg masih dikisaran Alun-alun di tempat perkampungan jual gudeg dan kemudian dilanjutkan menonton paduan suara dan marching band untuk memperingati malam ulang tahun UII (Universitas Insya Allah Islam) dibundaran Tugu Serangan 11 Maret. Baru selesai acara yang pertama, bahkan EMSI pun baru masuk membawakan acara, cuaca tampaknya kurang bersahabat dan tiba-tiba saja langit runtuh dengan menumpahkan  bergalon-galon air ke kepala kami. Jadilah dalam hitungan detik kami basah kuyup macam kucing diguyur air sebaskom. Kasian si Kucing baru beli sandal bulu udah lepek lagi,, hahahha.
*ampun cing, jangan ketok lagi palanya sayah*
Hari terakhir di Jogja dibuka dengan sarapan dipasar Bringinharjo pada pukul 10 pagi dilanjutkan dengan shopping terakhir di Malioboro dan Mirota batik kemudian harus check out dari home stay pada pukul 12.00!

Seluruh perjalan saya di Jogja bisa dibilang tidak terlalu buruk dan tidak terlau baik juga, mengingat keadaan jiwa saya yang masih shock setelah program dan berbagai macam musibah yang menimpa. Keep fight alligator.


*Catatan kaki setelah dari Jogja*
Dengan berniat sekali menantang panasnya Indonesia, saya menggunakan A1 kebanggaan untuk diperlihatkan kepada orang tua saya atas wujud terima kasih dan pengabdian saya kepada mereka yang akan menjemput saya di Bandara Sepinggan. Penerbangan delay 1 jam karena badai (lagi-lagi hujan mengacaukan liburan saya di Jogja sampai detik-detik akhir) dan setelah tuntas membaca surat Al-Fatihah dan ayat kursi karena pesawat yang berguncang hebat memasiki awan hitam, pesawat kecil ini sukses mengudara dan siap mendarat di Balikpapan satu setengah jam kemudian. Kebahagian mereka tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata ketika melihat saya memasuki ruang pengambilan baggage dan keluar menyambut mereka. Saya dihadiahi ciuman dari Abah, Mama, Nenek Omon, Acil, Paman, Melli Ponakan sayah dan Adik kesayangan sayah, Fadhilla.
Namun kebahagiaan ini tak berlangsung lama, mobil berjalan dari bandara menuju rumah sayah melewati rumah nenek sayah untuk mengantarkan paman dan acil sayah pulang di daerah Samboja, 2 jam kemudian musibah datang (LAGI!). tercium bau menyengat yang membuat saya memandang tajam kearah Fadhilla yang duduk disamping saya. Fikiran saya adalah, ni anak kurang ajar banget, udah gag boker 2 minggu yah!namun setelah lumayan mabuk dengan bau tersebut, kami baru sadar kalo kampas kopling mobil sewaan keluarga sayah hangus terbakar, dan kami pun terpaksa berjalan kaki dan sedikit mendorong ketika melewati bukit kecil karena mobil mengeluarkan bau ban terbakar dan menggerung-gerung tidak kuat berjalan lagi, macam kakek tua yang dipaksa sprint oleh cucunya. Mobil kami stuck ditengah jalan antah berantah dimana semua warung tutup dan rumah orang juga saling berjauhan dan terkunci. Yang jadi masalah adalah, terakhir kami makan itu ketika sarapan pagi harinya di pasar Bringinharjo 11 jam sebelumnya! Dengan kondisi kelaparan dan terlantar sayah menunggu jemputan sekitar 2 jam untuk menderek mobil kami.

Tapi jangan kira musibah yang menimpa sayah” cuma” sampai situ, karena mobil yang menderek kami terlalu kencang jalannya, maka mobil mogok yang dikendalikan oleh Abah saya (saya dan paman saya tinggal dimobil ini mengorbankan nyawa, hehehe) dibelakangnya kalang kabut menstabilkan jalan mobil dengan menginjak pedal rem sepanjang jalan, mungkin karena terlalu panas, besi di velg mobil yang menempel piringan rem disana menjadi terlalu panas dan membuat ban mobil itu pecah!
Alhasil kami sampai dirumah nenek Omon sekitar pukul 2 dini hari dan mencari cara pulang kerumah pagi hari setelah beristirahat, padahal malam ini kami diminta langsung mampir kerumah neneknya si Kucing begitu sampai di Samarinda untuk menghadiri selametan yang besok mau berangkat Umroh. Maaf ya nek!
Dan disinilah saya, terperangkap pada pukul 4 dini hari diruang tamu keluarga paman Udin mengetik serentetan musibah yang menimpa saya selama beberapa hari ini yang membuat sayah Insomnia Tingkat Lanjut. Fak!
Read more
 

Catatan Mahasiswa Sableng (C M S) Copyright Protect Reserved and Edited by ♥chamink♥ © 2012