Tampilkan postingan dengan label Poems and Lyrics. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poems and Lyrics. Tampilkan semua postingan

Kamis, Maret 21, 2013

? (Tanya)




Pertanyaan pertama

Bukankah kita melewatkan mata untuk saling tatap?
Dimana pecahan kenangan melewatinya.
Kau katakan sepenggal cahaya yang tertinggal adalah senyummu untuk kita pagi ini.
Pagi yang mana?

Kini aku menemani malam, kau tahu itu?
Untuk apa katamu?
Mungkin menanti dua titik cahaya nanti fajar.

Pertanyaan kedua

Siapa dirimu katamu?
Pantas untuk mengadiliku

Kita terbaik untuk siapa diri kita.
Hadirmu raja untuk singgasanaku
Hancur kau mengerti?

Seperti khayalku katamu, bukan yang pertama kali.
Masihkah aku berjalan dimata rendah sayumu?
Aku tau kau bukan dari khayangan, yang terbaik pula.
Disana, katanya bidadari adalah yang terbaik diantara yang tercantik.

Pertanyaan ketiga

Tak mengerti kenapa, fikirmu?
Tak terucap namun menggantung di lidahmu.
Kenapa kau tak datang semalam ?
Aku menunggu semalaman dipintu mimpiku.

Pertanyaan keempat

Kita mabuk.
Mabuk cahaya
Dan aurora kegembiraan yang lama tak kita rasakan lagi.
Ya
Kita mungin terkikis oleh waktu.
Tapi ketika kita meninggi, mungkin aku meninggikanmu.
Suatu hari kau bertanya bisa kah kita masih berendam didalam tinta cahaya-Nya?
Itu tergantung sedalam apa kau meminum air yang di tawarkan-Nya
Banyak kok berhamburan dilantai dunia.

Ketika nanti kau menemukanku, ditemani oleh cahaya
Disekelilingku
Mungkin sudah tak kau temukan lagi jiwaku yang dulu
Aku terlalu mabuk untuk mengingatnya

Pertanyaan kelima

Mengapa membuang-buang waktu untuk menunggu pertanyaan selanjutnya?
Kita sudah melewati masa ini.
Sudah
Dulu sekali, ketika umur kita awal berjumpa.


Pertanyaan keenam

Elok kau ingin dipanggil
Aku membayangkan surga ada didepan mataku ketika kau berdiri
Tak jemu aku memandang
Kau ingin ditemani olehku?
Jangan, nanti aku keterusan
Memendam rindu adalah keasyikan yang kunikmati sendiri saat ini

Rindukah ini katamu?
Ketika tanganmu sudah tak ada lagi mengggenggam waktu?
Ketika berjalan hanya bayangmu yang mengikuti?
Ketika ragamu lupa cara memeluk?



Amink
Read more

Lukisan Langit Senja Menjelang Basah.

Kau tahu bahwa rindu ini terantuk dipelipis senja diantara rinai yang lupa arah dan waktu kapan kan menjelang.

Sebuah sore, diantara kita, ada aku,kamu,rindu dan pecahan gerimis.

Aku dan kamu, menikmati sepi. Bermonolog dalam diam.

Dan pada sebuah sore, aku dengan senyum penuh kerinduan. Menatap nanar pada langit yang membentang menuju senjanya.

Kita merindukan gemuruh dan lautan petir diantara hujan yang membasahi hingga kedalam kulit muda kita.

Dengan adanya angin, kita berpelukan dan kau mendesah manja seakan aku adalah pelindung dalam dekapanmu.

Pada sore ini, mendung melihat aku dan kamu. Pada bara cinta yang perlahan melawan dingin.

Dan itulah rinduku. Melepas kebebasan dan menyambutnya pada jari-jemari telanjang membuang pelita akan melepas kehiruk-pikukan.

Dalam temaram lembayung senja serta sore ini.


Biarkan hujan itu tetap menanti, sampai menguning termakan usia.
Read more

Selasa, Oktober 16, 2012

Ingin Menjelajah Kembali

Selah jemari kakiku ingin merasakan aliran air yang mengalir dari pegunungan, aroma rumput basah yang disetubuhi embun semalam.
berbaring dibawah kenopi daun meranti yang bermega. teduh. Berteriak beriak air dikejauhan. 
memanggul beban, menebas ilalang, meniti jembatan dan berkeringat berteriak gembira dibawah tantangan matahari. 

Aku rindu bertualang. Sendiri ataupun keroyokan! 
memuji ciptaan-Nya dan kadang hanyut didalamnya
berbagi cerita dengan daun, embun, pohon dan burung
bertukar kabar dan membagi gelisah

Rapatlah, embun malam, merapatlah
rasakan hangat tubuhku
dan apimu mengalirkan darah dari ujung kakiku.


                       
Read more

Minggu, Maret 25, 2012

Masih Pada Bulan Yang Sama

Mengenalmu seperti memandang
Bayanganku sendiri yang terpantul
Pada kaca jendela perjalanan ini


Suatu Hari kau akan
Menemukanku bersandar 
Pada kursi ini dan memandang kosong


Aku hanya ingin kembali
Menatap bintang bersamamu
Meski bintang-bintang
Disini merayuku dengan sejuta semu


Kemanapun angin ini akan membawaku
Ku 'kan kembali
Dan jika itu terasa lama
Mungkin dua hati akan memandang
Masih pada bulan yang sama.









*sekilas tentang puisi ini*
Lucu memang, sebenarnya puisi ini sudah ga mau diapa-apain lagi bahkan untuk diposting disini.. Karena meaningless saat ini.. Kebetulan sayah membuat puisi ini saat di Derawan kemarin.

sedikit banyak ada harapan disana. saat itu kebetulan lagi kolaps karena kebanyakan snorkeling.. Entah ada setan apa, pada saat pulang dari pulau Kakaban dengan kondisi badai. Saat itu semuanya kelihatan jelas dari segala sudut. Aku lebih terfokus ketika mengarahkan apa yang benar-benar sayah ingin di masa depan. Mendadak langsung saja terucap dari mulut sambil merangkul si Nick, bule kawan perjalan sayah waktu itu.. "Man, I diffinetelly gonna came back here next year, for my honeymoon, with my wife!"
"Yeah? fuck yea, Man! you should do that!" he said!


Mari melihat kedepan, mungkin sudah bukan saatnya bermimpi lagi.. Mimpi yang secara sadar atau tidak sadar sudah ku rusak sendiri..
wassalam.





Read more

Selasa, Maret 20, 2012

Malam Yang Lain


Dia
Duduk
Bicara
Luka
Menambah dia

Apakah dunia memang bergetar untukku
Hitam dan Putih
Tak ada Jika

Apakah masih ada sisa detik
yang melewati menitnya berharap berhenti sejenak sekedar menikmati keindahan masing-masing
menawarkan senyum pedih

apa
yang retak
tak akan
kembali
sempurna

itu saja,
jika esok mungkin bisa tersenyum untukku
tapi senyumnya sudah diberikan kepada malam yang lain
malam yang lain

Aku
Kamu
Dua
Hati
Terpaku
Diantara dua topeng


Read more

Rabu, Januari 25, 2012

Memoar Kecil Disela Malam


Sekilas tampak seperti malam biasa
Sama seperti kemarin
Atau bahkan malam-malam kemarin

Tapi ada yang berbeda, tidak bagi mereka
Mungkin untukku.
Malam ku memeluk hangat

Mungkin Tuhan menciptakan purnama agar bisa menunggu malam ku kembali
Sebab malam ku memeluk hangat

Pada suatu hari nanti
aku mungkin sudah tak lagi merasa
hanya bait-bait minor ini yang menjadi memoar

Tapi nanti kau tak lagi bisa merasakan
Hanya ingatan yang berkilau-kilauan hanyut terbawa perasaan menuju samudera yang luas


Rumah Rawa 26 Jan 2011. 02.15 am
Read more

Salahkan Kepada.....


Apa yang kau harapkan
Dari malam dingin
Sempurna Tanpa Purnama

Apa yang bisa kulakukan
Dengan deras air
Yang merembes di kaki kita

Apa yang bisa kita jelaskan
Dari cuaca dan permainan lilin

Di subuh buta kita bersua
Seksama mendengarkan jatuhnya hujan
Menetes berirama di atas atap daun

Lilin itu semakin redup
Meredup hangat

Cukup sampai sore
Sampai hujan reda.


Lyric and Poem : Fenny Risma Kumayas
Arr                    : Amink & Ade "Babi"
Read more

*ANONYM*


Kita tak saling mengenal
Seperti waktu dan detik
yang berjalan apa adanya
kita memanas dalam beku
dan cerita kita berakhir begitu saja


Zintzoa; 25 Oct. 2011. 05.20 AM. (depan sekre HMJ)
Lyric: Amink & Babi
Arr  : Amink & Babi

Read more

Sabtu, November 26, 2011

Untitled

Sajak mengalir perlahan melalui jari hati yang berdarah....
 
Terbatu kumenatap goresanmu
Sebab karena pongah dan tutur

Terlintas begitu lekat topeng yang menempel
Dan akupun bermanja pada nada bercak noda hitam yang dengan mudahnya kuguratkan



Dari yang menghiris
Kepada yang terhiris
Mengapa masih terhiris?

Maaf dipinta

maaf sebisanya

rumah bawah, 2611111959.







Read more

Senin, November 14, 2011

Namaku Hujan

Namaku hujan
Membawa kehangatan ditengah dinginnya hati
Kepada kau yang terbiasa menyembunyikan air mata didalam hujan

Namaku hujan
Yang mengaharap bisa membalas tatapan matamu ketika menengadah saat rindu tak lagi bertuan

Namaku hujan
Yang kau cintai walaupun hanya sekedar tetesan kecil gerimis manis di penghujung tangis

Yang terjatuh begitu saja
Lepas
Seringan bulu dara
Dan terkadang terjatuh menyentuh pipimu

Namaku hujan
Alunan musik yang kuhasilkan dari tetesanku yang menyentuh atap daun
Kemudian menyentuh permukaan
Dan kita pun melayang mengingat pecahan-pecahan kenangan..

Namaku hujan
Mata indah, namamu siapa?

Kamar Rawa. 111520010347

Read more

Jumat, Mei 13, 2011

Mencintaimu Aku Harus Menjadi Diriku

Aku melawan ketiadaanku.
Larut kedalam kotak kosong yang tak kan pernah kau isi dengan keadaan yang sekarang ini.
Hanya saja aku memang tidak pantas kan untukmu?
Kau mencari lelaki sempurna yang tak kau dapatkan disisiku,
Meradang dan membilah.


Aku lelaki,
Punya harga diri.
Kamu wanita,
Punya harga mati.


Sayang belasan kali sayang, aku tak sanggup menjadi harga matimu.
Bukannya tak peduli dengan apa yang kau minta,
Aku hanya melakukannya dengan caraku. Yang kau anggap salah.
Mencintaimu aku harus menjadi diriku.


Lelaki memang kodratnya merayu,
Wanita memang takdirnya dirayu.
Aku merayu,
Kamu tak sudi.
Dia didekut kamu murka.


Lelaki dasarnya bajingan.
Wanita dasarnya pesolek.
Lelaki bajingan membiusi wanita pesolek.


Dia sosoknya dijalang
Kamu hatinya menjalang
Aku hanya bajingan dari koyakan masa lalu



Mencintai Louis Lane harus menjadi Clark Kent
Mencintai malam harus menjadi gelap dan kelam
Mencintai Delilah harus menjadi Samson
Dan mencintaimu harus menjadi Aku




 
Read more

Sabtu, Maret 19, 2011

ARA







Hey, Ara
malam ini aku berimpi kembali tentangmu
sampai hati ini pun ingin kembali merasakan wangi peluhmu.
jika gulana  ini meracun, maka perlihatkanlah jika hati berkata "kamu"

Hey, Ara
kini kabar dan tak terkabar hanya angin yang membawa namamu
cahaya pagi yang merobek malam
terasa menyakitkan
karena hanya cahaya malam yang dapat munculkan bayangmu

Hey, Ara
melalui malam aku mencintaimu
menuju malam aku bertemu
berakhir malam aku menjemu

jika nanti kau tak pernah mendapatkan kabar rinduku
aku tidak apa-apa
setidaknya bayanganku tahu aku rindu padamu

jika seandainya mimpiku tentangmu tak pernah mengusik mimpimu disana
tak apa,
setidaknya malam-malamku menjadi saksi aku menagis karena ingin melihatmu

Dan, Ara
aku mencintaimu seperti aku mencintai bayanganku.

R513/2003111128. 


Read more

Kamis, Februari 17, 2011

Kita Menari Dibawah Sinar Bulan

Kita menari di bawah sinar bulan.
malam semakin mesra bersama sahabat.
kini mereka tak tergoyahkan akan harapan kosong.
yang ada adalah canda, cinta dan hangatnya malam mesra ini.

Kita menari di bawah sinar bulan.
bukan untuk melakukan tarian panggil hujan.
tapi merasakan nikmatnya melihat cahaya bulan yang menikam perlahan.


Hati senang dengan musik yang mendendangkan irama kita bersama.
terserah apa kata mereka tentang lingkaran kita.
ini adalah lingkaran KAMI.

Bawa aku terbang bersama rumput mimpi ini. dan aku tak ingin malam ini segera berakhir.
selamat terlelap.




kamar kos 03:12 AM Feb 18th 2011
Read more

Rabu, Februari 16, 2011

Lawan Catur Theme Song #2

Do: Am

Dibumbui nafsu ingin membunuh
Direndam dengan masa lalu
Mulai bimbang dalam hati
Tak ingin percaya, namun tetap merasuki bimbang

Dua saudara dipertemukan
Beriringan dalam dinding kematian
Dihadapi moncong pistol
Disenggapi bubuk racun

Reff:
Dusta!
Racun telah dilarutkan dikerongkongan demi persaudaraan
Bohong! Sungguh!
Tak ada ikatan.

Kemenangan hinggap pada yang tertinggi
Yang ada dibawah tetap dibawah
Tak bisa terobos pertahanan otak
Kalah lunglai dibawah.

Back to reff:

Lyric: Ani "Kerang"
Music Arrangers : Ibenk & Amink
Read more

Lawan Catur Theme Song #1

Do: Em

Merindui titik kematian.
sang raja akan dilindungi matimatian.
Nafas kehidupan diancam hilang.
Kesombongan dalam 5 langkah.

Mereka semua tau.
Dunia dipenuhi musuh. Huhu
dan pimpinan tertinggi perlu dilindungi.
Dari serangan yang akan dilancarkan langsung.

Kehidupan akan ditentukan
jalan selanjutnya mundur atau bertahan
maka menang atau kalah akhirnya
hidup di hamparan hitam dan putih

Choir:
keberagaman mata memandang bergelantungan tanya akan langkah,
darimana,dimana dan kemana akan pergi langkah dan jalan tentukan cerita.


Lyric: Ani "Kerang"
Music Arrangers: Amink, Kurap, Rabut, Boncel, Boker
Read more

Selasa, Februari 15, 2011

Roman Taik Kucing!

Dia, mereka...
alasan ketika kau tak hancurkan jemariku yang perlahan padam.
ada kamu disana, namun menunjuk sepi pada awan yang siap terkam sang penyayang.

teriakan jepitan perutku pertanda lapar.
maka aku perlahan berjalan melewati padang malam untuk mencari penghiburan untuk perutku yang berontak.
cahaya lampu itu terlihat sangat mesra, tapi sepi.
mungkin karena aku ingat kamu. Dia, mereka.

Alunan dawai biola Sapardi mengingatkanku akan lirik tajamnya...
"aku ingin mencintaimu dengan sederhana"
namun menjadi tak sempurna,
penuh cacat dan sangat kompleks.

hey, aku tak ingin berbicara cinta, aku hanya lapar!
baik, aku akan bicara tentang kucing berwarna kuning abu-abu itu saja.
yang tak sengaja ku injak ekornya ketika aku lewat hendak mencari penghiburan untuk perutku.

cobalah liat itu, dia asik bercengkrama dipojok warung rokok dengan kucing genit yang agak gemukan berwarna putih hitam.
dia menjilati telinga lawannya dan asik berbagi kehangatan.
ah, taik!
kucingpun menghinaku dengan roman mereka!
dan kenapa pula aku melankolia?
mungkin karena Mahmud lupa di beri makan oleh mamaknya karena sibuk mengais sampah untuk mendapatkan makanan sisa.

hanya saja ini tak berasa seperti roman yang biasa.
aku mengendapkan lara yang tak kunjung meraih bara.
secercah mimpi kadang tertutup kabur oleh menanti-menanti lonceng berbunyi.

kunang kunang, silahkan tunjukan sejuta topengmu, dan akan kutunjukkan sejuta warnaku.. Dia, Mereka!

kau fikir aku tak tau apa yang kau bicarakan dibelakangku. dan aku tak suka. terimakasih..


apa kabar hujan? sudah lama kau tak menyapamu.
mengecipakkan airmu diatas telapak kakiku dengan sengaja.
efeknya dramatis kurasa.
tidak sedramatis hujan yang kau curahkan ke Florida akhir-akhir ini.menyebabkan semuanya luluh lantah.
apa kabar angin? sudah lama aku tak menunggangimu.
merasakan punggungmu dan merayap naik menyapu peluh.
sarana yang sangat efektif ketika aku ingin menitip pesan rindu kepada kekasihku.
ah, tidak seefektif seperti surat cinta cengeng yang kukirim lewat pos atau e-mail.

namun aku ingin mengendarai angin, berbaur dengan hujan, untuk mencapai pagar rumahmu. dan membagi ice cream yang sudah meleleh karena terlalu jauh kubawa, mungkin karena aku juga tidak membawa termos es untuk membuatnya membeku.
seperti cintaku, yang membatu.

simpan saja didalam hatimu, tak perlu semua diungkapkan.
aku mengerti jiwamu rapuh..
semua selalu tentangmu. bukan aku.


lagi-lagi konspirasi, jiwaku merapuh ketika menatap layar mengembang.
aku tak gentar, namun meragu.




kamar kos. 12:05 Feb 16th, 2011
Read more

Kamis, Januari 06, 2011

Bercinta Dengan Iblis







Akan kurengkuh puncak kenikmatan itu..
Walaupun rasanya hanya sekejap..
Read more

Rabu, Juni 09, 2010

Ketika nanti aku melamarmu











Katakan pada ibumu aku ingin melamarmu
Kau bilang dakilah gunung itu sebagai mahar
Telah kuambilkan batunya untuk buktikan niatku

Katakan pada ayahmu aku ingin meminangmu
Kau bilang selamilah dasar samudra terdalam diselat Hindia
Dan telah kubawakan sirip hiu pedang untuk buktikan betapa inginnya aku

Katakan pada hatimu kalau aku siap berada disampingmu
Namun sudahkah?

Aku hanya lelaki normal
Dan keabnormalanku yang kini ingin kumunculkan untukmu

Saat ini aku hanya punya sebungkus nasi untuk dimakan berdua
Tanganku kotor bekerja lumpur ketika mencari nasi ini
Maukah kau memakannya dari tanganku?



Samarinda 09Jun2010
Read more

Kemesraan dan Kopi


Sayang,
Kopi ini terlalu pahit untuk kunikmati sore ini
Aku merindukan takaran gulamu untuk kopiku

Suatu hari, ketika cahaya petang yang memantul dari tepian itu mengenai wajah kita
Suara alam dan dan burung yang menghangatkan cintaku, cintaku

Petikan gitarku mengalunkan nada cinta
Sementara kau suaramu mengiringi, dan kuakui..
Aku menikmati bersetubuh dengan suaramu

Dan petangpun semakin menghilang,
Aku masih memainkan gitar yang sama, nada cinta yang berbeda
Ada rasa yang tak ingin kutukar dengan pengembaraanku

Sayang,
Kopi ini sudah menjadi dingin, dan semakin pahit saja
Aku masih menunggu kau datang dengan menakarkan gula untuk kopiku

samarinda 09-jun2010 


Read more

Dia, Duduk, Disana.



Dia duduk disana,
Menatap menyayat dengan katanya
Mengelap bibir dengan tangan kanannya
Menghapus nasi basi yang dimakannya tadi sore

Dia duduk disana,
Melirikku sekilas dan secepat itu pula memalingkannya ketika aku menyadarinya
Menyumpah pada anak disebelahnya

Dia duduk disana,
Berperan layaknya Raja Diraja
Nikmatilah hartamu sampai ia nanti menggerogoti mayat busukmu

Dia duduk disana,
Mengharapkan sahaya yang lain untuk mencuci kakinya
Sementara yang lainnya meminumnya

Dia,
Tersenyum, dengan kata-katanya yang menghibur
Menelengkan kepalanya kembali sedikit, kemudian membentak kasar anak disampingnya

Duduk,
Ongkang dan pongah,
Mengangkang dan jengah,
Dari arang menjadi tanah,
Hanya menyisakan darah yang bernanah

Disana,
Aku  kembali mengharapkan lirikan itu
Tapi...

DIA HANYA DUDUK DISANA


Samarinda 09Jun2010
Read more
 

Catatan Mahasiswa Sableng (C M S) Copyright Protect Reserved and Edited by ♥chamink♥ © 2012